Al-Mujadalah
adalah sebuah media bagi ikhwan-ikhwan yang peduli terhadap keshahihan
dan kesunnahan harakatul Islam dari sekian bentuk jama'ah harakah yang
ada. Dengan sebuah tujuan agar kita betul-betul sadar dan memahami harakah
manakah yang sebenarnya lebih mendekati kepada sunnah Rasulullah. Dan semoga
kita terhindar dari segala bentuk ashabiyah.
TERHADAP KESESATAN MANHAJ
IKHWANUL MUSLIMIN
Kelompok Ikhwanul Muslimin lahir dan berkembang pesat di Mesir didirikan oleh Hasan Al-Banna. Sebagai pelopor kelompok ini dia banyak terpengaruh oleh seorang Syi'ah Rafidhah yang banyak memiliki kesesatan, yaitu Jamaluddin Al Afghani. Bahkan kelompok ini merupakan pembawa estafeta pemikiran Jamaluddin Al Afghani yang telah tersebar di Mesir. Hal ini sebagai mana yang diungkapkan oleh Muhammad Dhiyauddin Ar-Rais dan Al-'Asmawi dalam majalah Ad-Da'wah sebagai corong pemikiran Ikhwanul Muslimin, terbitan 13 rajab 1397 H, hal 22 dan terbitan 21 rabi'ul awal 1398 H, pada hal 23. (Lihat Da'wah Ikhwanul Muslimin fii Mizanil Islam karya Farid bin Ahmad bin Manshur Alus Tsbait hal. 60).
Untuk mengetahui lebih lanjut berbagai kesesatan Jamaluddin Al Afghani yang sekaligus sebagai salah satu tokoh Free Man Son ree (Organisasi Yahudi yang bertujuan untuk menghancurkan Islam) ini,silahkan anda membaca kitab Da'wah Ikhwanul Muslimin fi Mizanil Islam karya Farid bin Ahmad bin Manshur Alus Tsabit, hal. 27-61. Di sana penulis menjelaskan dengan bukti-bukti yang meyakinkan kesesatan Jamaluddin Al-Afghani.
Ikhwanul Muslimin adalah suatu kelompok yang memprioritaskan gerak dakwahnya dalam rangka mewujudkan persahabatan kaum Muslimin di atas segalanya. Sehingga kelompok ini tidak menghiraukan lagi berbagai praktek kekufuran, kebid'ahan dan kesesatan yang tumbuh subur di tengah-tengah kaum Muslimin. Terlebih lagi untuk menegakkan tauhid dan sunnah, memberantas kesyirikan-kesyirikan serta kebid'ahan-kebid'ahan, sangat jauh sekali panggang dari apinya. Karena menurut mereka, hal tersebut bila dibahasa kan menjadi sumber utama perpecahan kaum muslimin. Lebih dari itu, kelompok ini bukan saja mengajak kepada persatuan kaum muslimin tanpa memperhatikan dari mana asal-usul golongannya, bahkan mengajak persatuan antar umat beragama yang memiliki aqidah atau keyakinan yang sesat. Hasan Al Banna berkata pada Hari Ulang Tahun Ikhwanul Muslimin yang ke-20, yang bertepatan dengan tanggal 5-91948 M : "Gerakan Ikhwanul Muslimin tidak diarahkan untuk melawan satu 'aqidah, agama, dan kelompok manapun. Karena setiap individu yang menganut suatu 'aqidah, agama dan kelompok mana saja, sekarang sama-sama merasakan bahwa prinsip-prinsip risalah agama-agama samawi sedang terancam oleh banyak aliran "Ilhadiyah" (pengingkaran tuhan/atheisme) dan aliran "Ibahiyah" (penghalaln segala sesuatu). Hendaknya seluruh Mukminin mencurahkan kemampuan dan saling bahu membahu dengan agama-agama ini untuk melepaskan manusia dari bahaya tersebut. Maka Ikhwanul Muslimin tidak membenci orang-orang kafir yang tinggal di negeri-negeri Arab dan negara-negara Islam dan tidak memusuhi mereka. Sekalipun Yahudi yang tinggal di sana, tidak ada hubungan antara kita dengan mereka melainkan hubungan baik." (Qafilatul Ikhwan karya As Sisi 1/212).
Pada sebuah kesempatan Muhamad Al Ghozali pernah menyatakan : "Sesungguhnya di sana ada sebuah dasar yang menyamakan antara Yahudi, Nashroni, dan Muslim, yaitu bahwa mereka sama-sama bersaudara." (Minhuma na'lam hal. 53).
DR. Yusuf Qardhawi salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang sedang digandrungi saat ini, pernah berkata ketika membantah Jama"ah Tafkir, "Kita mengingkari sikap kasar dan kaku terhadap para penguasa. Kita telah mencoba sikap kasar kaku ini pada masa-masa dahulu, maka hendaklah kita tinggalkan cara-cara usang yang penyebarannya membawa malape- taka bagi pelakunya dengan datangnya laknat Allah, malaikat, dan manusia seluruhnya. Marilah kita berpegang dengan sikap yang diserukan saat ini, yaitu mengikuti undang-undang, mendukung setiap kebebasan individu, dan menghormati sesama manusia." (Risalah Dhahiratul Ghuluw fi Tafkir hal. 100 karya DR. Yusuf Qhardawi).
Demikianlah ucapan para tokoh Ikhwanul Muslimin, ucapan-ucapan keji yang tak sepantasnya diucapkan oleh seorang muslimin yang awam sekalipun. Karena Allah SWT telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk masuk Islam secara keseluruhan dan jangan mengikuti langkah-langkah syetan, karena syetan adalah musuh yang nyata bagi mereka, sebagaimana yang tertera didalam Al Qur'an surat Al Baqarah ayat 208. Dan Rasulullah SAW telah membuktikan permusuhan beliau kepada semua kekufuran, kesyirikan, dan kesesatan serta kepada para pelakunya selama 23 tahun, baik ketika di Makkah maupun ketika di Madinah. Tidak ada sejarahnya Rasulullah SAW mengajak kaum muslimin untuk saling bersaudara, berkasih sayang, bahu membahu, tolong menolong dengan Yahudi dan Nashrani atau pun Agama lainnya. Beliau memang pernah berdamai dan bekerka sama dengan Yahudi, akan tetapi hal itu beliau lakukan karena melihat adanya kemashlahatan yang cukup besar bagi kaum muslimin dalam perdamaian tersebut, dan bukan berarti bahwa beliau tidak bermusuhan dengan Yahudi dan Musyrikin tersebut. Hal ini karena Allah SWT telah mengajarkan kepada Nabi-Nya dan kaum muslimin untuk tida menjadikan Yahudi dan Nashrani serta orang-orang kuffar sebagai wali, penolong, dan pembantu mereka selain Allah. Allah Ta'ala berfirman : "Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil Yahudi dan Nashrara sebagai wali-wali (penolong dan pembela). Sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian ynag lain. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka wali diantara kamu, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki kaum yang dhalim." (Al Maidah :51)
Dalam ayat yang lain Allah Ta'ala berfirman :"Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengambil wali orang-orang yang menjadikan agamamu sebagai buah ejekan dan permainan, yaitu orang-orang yang telah diberi Al Kitab sebelum kamu dan orang-orang yang kafir. Dan bertaqwalah kepada Allah jika kamu orang yang benar-benar beriman." (Al Maidah : 57). Dan banyak lagi ayat-ayat yang senada dengan ayat-ayat diatas yang Allah SWT tidak pernah mengajarkan kepada Nabi-Nya untuk bersaudara ,berkasih sayang, bahu membahu, tolong menolong dengan Yahudi dan Nashrani ataupun kaum kafir yang lainnya. Bahkan Allah SWT membangkitkan semangat kaum muslimin untuk melakukan amar ma'ruf dan nahi munkar. Allah berfirman : "Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia. Kalian memerintahkan kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran : 110).
Apakah kelompok yang tidak mengajak kepada yang ma'ruf dan tidak mencegah dari yang munkar, bahkan mengajak kepada persatuan semua Agama, aliran, dan kelompok yang penuh dengan kesesatan, akan bisa menjadi penolong bagi agama Allah ? Padahal Rasulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah Allah mengutus seorang Nabipun sebelumku kepada suatu ummat melainkan dia memiliki para penolong dan shahabat dari ummatnya, mereka menjalani sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian datang setelah mereka generasi-generasi yang mereka mengatakan apa yang mereka tidak kerjakan dan melakukan apa yang mereka tidak diperintahkan. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka dia mukmin, dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya maka dia mukmin,dan barangsiapa yang memerangi mreka dengan hatinya maka dia mukmin. Tidak ada lagi keimanan selain itu (kendatipun) sebesar biji sawi." (HR.Muslim).
Jawaban bagi pertanyaan di atas
ada pada para pembaca sekalian. Sedangkan hadits tersebut menjelaskan tahapan-tahapan
mengingkari kemungkaran dan menjamin bagi para pelakunya bahwa dia adalaah
seorang mukmin. Dan juga menegaskan bahwa tidak adanya keimanan walaupun
hanya sebesar biji sawi bagi orang yang tidak mau mengingkari kemungkaran
sama sekali. Lalu sekarang kita kembali bertanya, bagaimanakah dengan kelompok
Ikhwanul Muslimin yang mengajak kepada persatuan dengan semua Agama dan
aliran-aliran sesat yang ada dimuka bumi ini? jelas ini adalah ajakan yang
menjurus kepada kekufuran. Ini merupakan kesesatan nyata yang tidak bisa
untuk ditolelir lagi. Dan wajib bagi kaum muslimin untuk mengingkarinya
baik dengan tangannya, lisannya maupun hatinya.
Wallahul musta'an .
Insya Allah, pada terbitan berikutnya
akan membahas sebuah tema lanjutannya dengan judul : "MENYINGKAP TABIR
AQIDAH HASAN AL-BANA"
Jika antum memiliki saran, tanggapan dan masukan materi, harap dikirim ke [email protected]